SAMPAI NANTI : 5. SENJAKU SIRNA
5. SENJAKU SIRNA
Pertama kalinya di dalam hidupku aku menyukai orang begitu lama. Pertama kalinya di dalam hidupku aku mengagumi seseorang. Pertama kali di dalam hidupku juga, Annisa menyebut nama seorang laki-laki dengan begitu semangatnya. Aku tidak akan memberitahukan siapa pun perasaan ini, biarkan hanya Tuhan dan hatiku saja yang tahu. Aku tidak mau kehilangan sahabat demi seorang laki-laki yang belum tentu menyukai aku. Tidak akan.
Ting.. ting.. Handphone-ku berbunyi. Ternyata pesan dari Kak Alvin.
‘Alice, kamu di mana? Tadi nggak ke perpustakaan ya? Aku udah bawain buku yang
mau kamu pinjam kemarin.’
Seketika jariku pun langsung bergerak dengan lincah, menjawab pesan Kak Alvin.
‘Maaf Kak! Alice lupa. Kalau nggak keberatan tolong titip aja ke petugas perpus.
Alice ambil saat ada waktu. Terimakasih!’
Aku harus menghindari Kak Alvin! Aku tidak mau hatiku semakin sakit melihat sahabatku yang menyukai laki-laki itu sedih melihat aku sering bersamanya. Aku tidak mau sahabatku salah paham. Aku berteman dengan Annisa jauh lebih lama jika dibandingkan dengan rasa suka yang aku miliki pada Kak Alvin.
Hari di sekolah telah aku lewati dengan penuh sendu. Semangat yang aku miliki di pagi ini telah lenyap. Langkahku lunglai menuju pintu rumah. Hari yang panas tidak menghalangi aku untuk mendekati salah satu bunga di halaman rumahku ini. Aku mendekati bunga matahari yang berdiri tegak menatap matahari.
Bunga matahari memiliki asal usul yang menceritakan tentang kesetiaan, sebagian orang menganggap bunga matahari juga menjadi lambang dari kesetiaan. Aku pernah membaca sebuah cerita yang berasal dari mitologi Yunani tentang hal itu. Legenda itu menceritakan bahwa bunga matahari berasal dari wujud seorang Nimfa yang jatuh cinta terhadap dewa matahari. Nimfa merupakan salah satu kaum dari makhluk legendaris yang berwujud wanita dan tinggal di tempat-tempat tertentu serta menyatu dengan alam. Di dalam legenda tersebut, seorang Nimfa yang bernama Clytie jatuh cinta kepada seorang dewa matahari yang bernama Helios. Setiap hari Clytie selalu memperhatikan Helios yang selalu menjelajah angkasa dengan kegagahannya. Tanpa peduli apakah Helios memperhatikannya atau tidak, Clytie tetap mencintainya dan memperhatikannya baik pagi, siang, dan malam.
Clytie tak ingin berpaling dari Helios. Kesetiaan cinta Clytie terbukti dengan dirinya yang tak pernah berpindah tempat dari pagi hingga malam menjelang hanya untuk terus memandangi Helios. Ia terus menunggu lagi dan lagi untuk dapat melihat Helios kembali mengarungi angkasa. Selama delapan hari Clytie melakukannya tanpa makan dan minum, bahkan hanya sedikit waktu untuk tidur. Clytie ingin Helios bisa melihat ketulusan cintanya itu. Namun sayangnya, Helios tidak pernah sedikit pun melihat dan menyadari kehadiran Clytie.
Di hari kesembilan sebuah keajaiban muncul. Akar mulai tumbuh di kaki Clytie. Tubuhnya pun berubah menjadi sebuah batang tanaman. Kecantikan di wajahnya pun menjelma menjadi keanggunan dari sebuah bunga yang selalu menghadap matahari.
Comments
Post a Comment