SAMPAI NANTI : 3. BEGITU DEKAT
3. BEGITU DEKAT
“Oh.. Ha..Halo kak Alvin!” jawabku gugup. ‘Aduh, rambutku masih rapi nggak ya? Mukaku berantakan nggak ya?,’ Pikirku.
“Hei, kenapa kamu seperti melihat hantu begitu?”
“Ng..nggak apa-apa, kak! Aku hanya kaget,” jawabku sambil terbata-bata.
Jantung berdetak begitu kencang, semakin mendengar suaranya, jantung semakin berlari-lari tanpa tahu akan melakukan apa.
Alvin Dennis Damara. Kakak kelas yang aku kagumi sejak aku masih junior high school. He’s so smart, cool, very kind, and handsome. Kami dekat, tapi tidak sedekat yang orang lain kira, seperti layaknya seorang kekasih, nggak sama sekali. Kami dekat hanya karena kami memiliki hobi yang sama, yaitu menghabiskan waktu ke perpustakaan. Mungkin bagi sebagian orang, ke perpustakaan hanya semuah image yang dibangun agar terlihat pintar. Tapi tidak untuk kami. Kami menghabiskan waktu di perpustakaan hanya untuk melihat dunia luar yang begitu besar dan indah. Lebih tepatnya, kami termasuk anak yang introvert, yang lebih suka menyendiri daripada berada di tengah kerumunan orang, tidak suka menjadi pusat perhatian orang, dan menghabiskan waktu dengan segudang buku hanya untuk memenuhi hasrat ingin tahu yang kami miliki.
Aku tidak ingat sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku hanya ingat bahwa aku menyukainya sejak lama. Tapi aku tidak pernah berani mengungkapkannya. Teman dekatku, Monica mengatakan bahwa aku harus jujur dan dia mungkin menolakku. Tapi… dia telah dimiliki oleh orang lain. Kakak manis yang juga satu angkatan dengannya, Celina Allura.
“Mau ke kelas? Bareng aja yuk! Kan satu arah..” ajaknya, membangunkanku dari lamunan.
“I.. Iya kak! Yuk..” diam-diam aku menatap sosok yang berdiri di sampingku itu. Wajah yang manis penuh dengan kelembutan, kulit yang putih seperti susu, mata yang biru dan tatapannya yang lembut, bibir yang merah dan tipis, hidungnya yang hampir seperti paruh burung, tubuhnya yang tinggi, rambutnya yang hitam dan…
“Hei, Alice! Awas…”
Brukk… Tidak sempat aku tersadar, kepalaku menghantam sesuatu. Sebuah pot buang yang tergantung di depan kelas seni.
“Ouch… kepalaku!” rintihku.
“Kamu nggak apa-apa? Sakit? Kita ke ruang kesehatan, aku antar ya!” tanyanya penuh khawatir. Tapi, bukannya menjawab pertanyaannya, tapi justru tertegun melihat wajahnya yang begitu dekat denganku.
Dug, dug, dug….. suara jantungku tiba-tiba memenuhi telingaku. Aku harus mengembalikan kesadaranku. Aku tidak boleh berada begitu dekat dengannya seperti ini.
“A.. Al.. Alice nggak apa-apa, kak! Sepertinya kelas pertamaku udah mulai, aku harus buru-buru. Bye, kak Alvin!” aku berdiri dan segera berlari meninggalkannya.
“T..tapi kelas pertama mulai 15 menit lagi” suaranya terdengar semakin menjauh. Aku berlari sekuat tenaga yang aku punya dipagi itu, seakan-akan ada nenek sihir yang sedang terbang di belakangku, ingin menangkapku.
Aku terengah-engah, tidak menyadari bahwa semua orang sedang memperhatikan keanehanku dipagi itu. Tiba-tiba ada suara memanggilku, seakan memberitahuan keanehanku pagi itu yang sedang dilihat oleh semua orang.
“Alice? Ada apa?”
-//-
Comments
Post a Comment