SAMPAI NANTI : 4. CERAHKU PUN SENDU
4. CERAHKU PUN SENDU
“Hei, Alice! Kamu kenapa? Kok bingung gitu?”, tanya Annisa.
“Ngg.. Nggak apa-apa kok, aku cuma takut telat! Jadi buru-buru deh lari ke kelas.” jawabku.
“ha ha ha.. Kamu lucu deh, kan masih 15 menit lagi kelas di mulai!”
“Benarkah? Kayaknya tadi aku salah liat jam di tanganku ini ya!”
“Ngomong-ngomong, kamu udah ketemu kak Alvin belum? Setiap pagi pasti ke perpustakaan, tapi pagi ini aku ke sana nggak ada. Apa dia nggak masuk ya hari ini.. padahal setiap pagi aku ke perpustakaan karena mau liat dia!” keluh Annisa.
Aku terdiam menatap Annisa. Kami berteman dekat, sangat dekat dan memiliki kemiripan hingga orang mengira bahwa kami adalah saudara kembar. Aku sangat mengenalnya. Tetapi Annisa yang ada di hadapanku saat ini, aku tidak mengenalinya. Sekian lama aku mengenalnya, dia tidak pernah sekalipun menceritakan seorang laki-laki dengan begitu bersemangat dan juga kecewa. Apakah dia menyukai kak Alvin?
“Maksudmu Alvin mana, cha?” tanyaku.
“Di sekolah kita kan hanya ada satu Alvin, Alice! Ya Alvin itu yang aku maksud. Aku….” tiba-tiba Annisa terdiam dan menatapku malu.
Benar, orang yang Annisa maksud adalah Kak Alvin yang bertemu denganku pagi ini. Kak Alvin yang membuatku tidak bisa merasakan ketenangan saat menatapnya. Kak Alvin yang selalu membuatku gugup. Kak Alvin yang membuatku berdebar-debar.
Setelah aku pastikan bahwa orang yang kami maksud adalah orang yang sama. Aku menutupi kegugupan yang terjadi padaku beberapa menit yang lalu. Aku menutupinya dengan rasa bahagia bersama sahabatku ini.
“Cha? Kok nggak dilanjutin? Hayoooo… ketauan deh ya, ternyata selama ini kamu suka ya sama kak Alvin? Sejak kapan? Ayo ceritain…” godaku pada Annisa.
“Ng.. Nggak kok! Bukan. Bukan gitu.. Aku…” Jawab Annisa dengan tersipu malu.
“Ayo dong ceritain! Buruan.. ayo ceritain! Ternyata sahabatku udah bisa jatuh cinta. Akhirnya.. hehehe” godaku lagi. Aku menutup rapat perasaanku. Aku tidak ingin sahabatku itu kecewa. Aku tidak ingin kehilangan sahabat hanya karena seorang laki-laki.
“Um.. sebenarnya belum lama. Saat aku mencarimu di perpustakaan, aku melihatnya juga di sana. Ntah apa yang dia baca, tapi saat itu aku melihatnya dengan begitu serius sekaligus terlihat begitu manis. Hidungnya yang mancung.. kulitnya yang sangat bersih.. dan tampilannya yang rapi. Nggak kayak anak-anak lain. Sejak itu, aku sering ke perpustakaan untuk melihatnya.” Annisa menjelaskan dengan penuh senyuman. Dia bercerita dengan seakan-akan dia sedang melihat kak Alvin di depannya. Matanya penuh dengan kekaguman. Lalu dia tersadar dan berkata
“Alice, promise me! Jangan pernah kasih tau siapa-siapa, termasuk kak Alvin! Please.. karna aku lihat kalian sepertinya cukup dekat. Kalian sering bertemu di perpustakaan dan menceritakan buku-buku serta hal-hal yang nggak aku pahami. Please, promise me!”
“ha ha ha.. iya.. iya.. nggak akan aku ceritain ke siapapun! Promise!” tapi hatiku sangat sedih. Sepertinya, kekagumanku hanyalah sebatas kekaguman.
-//-
Comments
Post a Comment