SAMPAI NANTI : 2. EMBUN DAN KESEMPURNAAN

 2. EMBUN DAN KESEMPURNAAN


    Cerahnya pagi menyambutku. Embun-embun pagi ini menyapaku sekaligus mengucapkan selamat tinggal, karena matahari sudah mulai muncul untuk mengusir mereka. Angin pagi yang dingin, membuatku membayangkan selimut kamarku lagi. Ah, seandainya ini hari minggu! Hahaha. Pikirku.

    Aku sangat menyukai pagi. Aku sangat menyukai dingin yang sejuk ini. Aroma rumput yang segar. Aroma daun yang bias. Dan aroma bunga yang tidak mampu ditolak sipapun. Tidak pernah sekalipun aku melewatkan keindahan pagi seperti ini. Semangatku menyambut pagi adalah untuk menyapa mereka yang penuh warna di halaman rumahku. Lalu, menyambut dia yang ada di atas sana. Biru cerah yang menandakan hari ini mungkin tidak akan turun hujan. Tapi siapa yang tahu. Terkadang alam bisa berubah hanya dalam waktu sekejap mata. Seperti sifat manusia terkadang tidak bisa kita duga.

    Bola mataku mengelilingi seluruh penghuni halaman rumahku tanpa ada satupun yang terlewati. Seandainya aku bisa sekecil peri seperti yang sering kubaca di majalah Bobo hingga aku sebesar ini. Seandainya aku bisa terbang seperti peri bungan di film yang sering aku tonton. Seandainya aku seorang putri di negeri dongeng, seperi putri-putri yang ada di dalam cerita dongeng yang sering kubaca berulangkali.

    Tiba-tiba mataku tertuju pada benda berwarna silver yang pergelangan lenganku, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6.30 pagi, saatnya aku harus bergegas menuju sekolah. Aku pun segera berdiri dan menyadarkan diriku dari lamunanku tentang bunga, embun, dan peri.

“Pa.. Ma.. Alice pergi ya,” pamitku pada mereka.

“Iya, nak! Hati-hati ya..” ucap Mama dan Papa sambil mencium keningku.

***

Hai, namaku Alicia Agatha Poernomo. Aku anak dari Reychard dan Carroline Poernomo. Kedua orangtuaku merupakan seorang mualaf pada saat usiaku lima tahun. Ada sebuah kisah panjang yang terjadi sehingga mereka menemukan Tuhan dalam Islam. Well… Semua temanku berkata bahwa aku adalah manusia yang paling beruntung di dunia. Aku memiliki wajah yang cantik, pintar, memiliki kelurga yang sangat berkecukupan, serta memiki orang tua yang sempurna. Begitulah kata mereka. Yah… aku sangat bersyukur.

    Aku selalu menghadapi hariku dengan senyum dan semangat pagi. Mama selalu mengatakan bahwa alam akan tersenyum dan turut berdoa untuk hari indah kita karena melihat semangat kita. Ya, itu benar. Jika kita menghadapi hari dengan penuh semangat bahagia, maka setiap detik akan terasa indah untuk kita jalani. Tapi sayangnya alasanku untuk bersemangat menuju sekolah bukan itu.

“Hei, Alice!” suara itu tiba-tiba mengagetkanku dari belakang. Ternyata…


-//-

Comments

Popular Posts